Tersebutlah 4 teman karib bernama Adi, Bambang, Dedi dan Eki. Mereka sudah bersahabat sejak kecil, bahkan mungkin sejak bayi, karena mereka berempat sama-sama berumur 12 tahun dan rumah mereka pun juga sama-sama bertetangga. Sejak usia 9 tahun, mereka berikrar bahwa mereka akan selalu bermain bersama, bersekolah bersama, melakukan kegiatan lainnya bersama, apapun yang terjadi.
Keempat sahabat ini mempunyai kegemaran yang sama yaitu membuat dan menerbangkan sendiri layangan mereka. Setiap sabtu sore, mereka selalu berkumpul di tanah lapang dekat rumah, membawa gulungan kertas hasil sumbangan dari toko kelontong Kang Wawan, salah seorang lelaki paruh baya yang baik hati di desa tersebut.
Layangan yang mereka buat selalu berwarna putih bersih. Mereka mengikatnya dengan ranting-ranting pohon dan tali rafia yang mereka dapatkan dari sekolah. Namun ada sebuah tanda khusus di ujungnya, mereka selalu menuliskan huruf awal nama mereka, jadi apabila layangan tersebut jatuh, mereka tahu layangan punya siapa yang kalah.
Suatu hari, Bambang menderita sakit yang cukup parah, dia kerap kali pingsan tanpa sebab dan sering dibawa ke rumah sakit. Ketika di rumah sakit, Bambang sempat menitipkan pesan kepada ketiga sahabatnya, agar apabila tiba-tiba dia tertidur dan tidak bangun lagi, Bambang minta agar layangan miliknya tetap diterbangkan oleh mereka. Dengan begitu, Bambang tidak akan kesepian dimanapun dia berada.
Oleh teman-temannya, pesan tersebut ditulis di layangan milik Bambang. Dengan menggunakan huruf kapital, tulisan itu berbunyi,"KATA BAMBANG, LAYANGAN INI HARUS TETAP TERBANG". Sejenak mereka tertegun, kalau nanti Bambang benar-benar tidur dan tidak bangun lagi, bagaimana mungkin mereka bertiga menerbangkan 4 layangan sekaligus, sementara layangan yang mereka buat ukurannya lebih besar dari layangan biasa. Lalu mereka berdoa, "Tuhan, kalau memang nanti Bambang tidur, kami minta tolong yah.. bantuin kami untuk nerbangin layangan Bambang, kami nggak tau gimana caranya, makasih ya Tuhan yah..".
Sore hari itu, Adi, Dedi dan Eki sudah bersiap-siap untuk menerbangkan layangan mereka, termasuk layangan Bambang yang kali ini mereka cat pinggirnya dengan warna biru, warna favorit mereka berempat. Saat itu angin bertiup cukup kencang, cukup aneh buat mereka, karena tidak seperti biasanya angin di lapangan sekencang itu.
Perlahan, mereka mencoba sekuat tenaga untuk menerbangkan keempat layangan tersebut. Layangan Bambang terasa berat bebannya, entah kenapa. Namun tak berapa lama, semuanya telah menukik naik ke atas angkasa. Terlihat begitu jelas layangan Bambang berwarna biru, menari-nari ke kanan dan ke kiri, persis seperti kebiasaan Bambang yang suka menari-nari di kala menerbangkan layangannya.
Tiba-tiba layangan Bambang putus! Adi, Dedi dan Eki langsung berlari mengikuti arah kemana layangan Bambang terbang. Namun, layangan biru tersebut tetap menari-nari di antara layangan lainnya, tidak jatuh sedikitpun, bahkan terkesan seperti tetap ditarik.
Mereka memperhatikan sesuatu, bahwa layangan Bambang terbang tanpa ikatan tali apapun.......
Monday, February 25, 2008
Thursday, February 21, 2008
Iman Yang Hitam
Berulang kali Iman mematut-matut pada cermin di kamarnya yang sempit, sesekali dia membusungkan dada sambil berujar,"Aku ingin jadi setan".
Iman capek harus jadi orang baik terus, karakter yang dia bangun seumur hidupnya dipuja-puja banyak orang, sehingga lama kelamaan membuat dia muak. Untuk itulah kenapa Iman memutuskan jadi orang jahat saja mulai hari ini, agar dia bisa terus hidup berdampingan dengan sahabat sekaligus penjaganya, Hitam.
Seringai Hitam terlihat jelas di keheningan malam yang pekat, ketika dia dipanggil Iman. Entah mengapa, gigi-gigi Hitam berwarna keruh, mungkin karena bercampur darah hewan-hewan yang dimakannya beberapa saat sebelumnya. Perlahan Iman mendekat dan berkata pada Hitam,"Bang, malam nanti bulan purnama... Abang tahu kan keinginanku? Sudah lama aku nggak ikut merantau denganmu..".
Iman memang memanggil Hitam dengan sebutan Abang, alasannya supaya dia bisa lebih menghargai Hitam sebagai mahkluk hidup ketimbang binatang piaraan semata.
"Gigimu kotor, Bang, lain kali kalo abis makan, langsung minum dari rumah aja yah, kan aku udah siapin buat Abang, aku nggak suka kamu minum dari sungai, airnya nggak bersih, nanti Abang sakit".
Sekali lagi, Hitam menyeringai, memperlihatkan taring-taring tajamnya...
Hari ini bulan purnama.. Iman dan Hitam duduk di teras rumah mereka yang terbuat dari kayu, terletak di tengah hutan belantara, dan dibawah pepohonan tinggi, menunggu saat-saat bahagia itu tiba. Sesekali terdengar suara desis ular-ular yang bergerak melewati rumah mereka. Kalau sudah begitu, biasanya Hitam hanya diam saja. Dia tidak begitu suka ular, dia hanya suka rusa, kambing atau apapun yang berkaki 4.
Namun, terkadang dia juga tergiur melihat manusia..
Sejenak bulu kuduk Iman berdiri dengan cepat, bersamaan dengan hilangnya bulan dari peredaran langit yang semakin menggelap, dia tahu, itulah saatnya dia harus mengikat dirinya sendiri. Tapi, malam ini dia ingin sekali bebas... bebas berlari, dan dia sudah minta ijin sama Hitam bahwa kali ini dia ingin ikut merantau dengannya.
Aaaaaaaaarrrrrrrrrrrgggggggggggghhhhhhhhhhhhhhhh!!!
Iman menjerit perih!!!
Seluruh tulang rusuknya serasa patah!!!
Lapisan kulitnya serasa dicabik!!!
Darahnya serasa dipompa keluar!!!
Urat nadinya serasa ditarik paksa!!!
Otaknya serasa tumpah!!!
Sakiiiiiittttttt!!!
Sakiiiiiittttttt!!!
Sakiiiiiittttttt!!!
Beberapa saat kemudian...
Lolongan mulai terdengar..
Tatapan tajam mata Iman..
Tetesan liur segar dari mulutnya..
Kilauan taringnya...
Gerakan pelan dari cakarnya yang hitam keabu2an..
Iman dan Hitam saling menatap, mereka berdua tahu betul apa yang mereka inginkan malam ini.. Suatu penghilang rasa dahaga yang mengalir deras berwarna merah segar dari tubuh manusia..
Lolongan terdengar lagi.. suaranya meriuh panjang, sesekali seperti ada tawa didalamnya..
"Aku adalah Setan".
Iman capek harus jadi orang baik terus, karakter yang dia bangun seumur hidupnya dipuja-puja banyak orang, sehingga lama kelamaan membuat dia muak. Untuk itulah kenapa Iman memutuskan jadi orang jahat saja mulai hari ini, agar dia bisa terus hidup berdampingan dengan sahabat sekaligus penjaganya, Hitam.
Seringai Hitam terlihat jelas di keheningan malam yang pekat, ketika dia dipanggil Iman. Entah mengapa, gigi-gigi Hitam berwarna keruh, mungkin karena bercampur darah hewan-hewan yang dimakannya beberapa saat sebelumnya. Perlahan Iman mendekat dan berkata pada Hitam,"Bang, malam nanti bulan purnama... Abang tahu kan keinginanku? Sudah lama aku nggak ikut merantau denganmu..".
Iman memang memanggil Hitam dengan sebutan Abang, alasannya supaya dia bisa lebih menghargai Hitam sebagai mahkluk hidup ketimbang binatang piaraan semata.
"Gigimu kotor, Bang, lain kali kalo abis makan, langsung minum dari rumah aja yah, kan aku udah siapin buat Abang, aku nggak suka kamu minum dari sungai, airnya nggak bersih, nanti Abang sakit".
Sekali lagi, Hitam menyeringai, memperlihatkan taring-taring tajamnya...
Hari ini bulan purnama.. Iman dan Hitam duduk di teras rumah mereka yang terbuat dari kayu, terletak di tengah hutan belantara, dan dibawah pepohonan tinggi, menunggu saat-saat bahagia itu tiba. Sesekali terdengar suara desis ular-ular yang bergerak melewati rumah mereka. Kalau sudah begitu, biasanya Hitam hanya diam saja. Dia tidak begitu suka ular, dia hanya suka rusa, kambing atau apapun yang berkaki 4.
Namun, terkadang dia juga tergiur melihat manusia..
Sejenak bulu kuduk Iman berdiri dengan cepat, bersamaan dengan hilangnya bulan dari peredaran langit yang semakin menggelap, dia tahu, itulah saatnya dia harus mengikat dirinya sendiri. Tapi, malam ini dia ingin sekali bebas... bebas berlari, dan dia sudah minta ijin sama Hitam bahwa kali ini dia ingin ikut merantau dengannya.
Aaaaaaaaarrrrrrrrrrrgggggggggggghhhhhhhhhhhhhhhh!!!
Iman menjerit perih!!!
Seluruh tulang rusuknya serasa patah!!!
Lapisan kulitnya serasa dicabik!!!
Darahnya serasa dipompa keluar!!!
Urat nadinya serasa ditarik paksa!!!
Otaknya serasa tumpah!!!
Sakiiiiiittttttt!!!
Sakiiiiiittttttt!!!
Sakiiiiiittttttt!!!
Beberapa saat kemudian...
Lolongan mulai terdengar..
Tatapan tajam mata Iman..
Tetesan liur segar dari mulutnya..
Kilauan taringnya...
Gerakan pelan dari cakarnya yang hitam keabu2an..
Iman dan Hitam saling menatap, mereka berdua tahu betul apa yang mereka inginkan malam ini.. Suatu penghilang rasa dahaga yang mengalir deras berwarna merah segar dari tubuh manusia..
Lolongan terdengar lagi.. suaranya meriuh panjang, sesekali seperti ada tawa didalamnya..
"Aku adalah Setan".
Ineffectually

Picking up the pieces,
Whats left in the wake of my life,
in the middle of the rain,
In the middle of the darkness,
In the soreness of the heart,
In the middle of the emptiness of yearning,
ineffectually
In the shadow of the past,
i've found all of it,
but I can no longer taste it,
still, the shadows haunts me
and yet, still I greet it,
eager for its valid presence,
ineffectually
This sadness, isn't yet killing me,
still it'll torture my body and soul,
scent I do not smell,
light I do not feel,
agony I can't take,
but I'll live it
ineffectually
(written with full of soul by w.i.s)
Saturday, November 17, 2007
"Pahlawan" Tanpa Tanda Jasa
"Selamat pagi anak-anak...".
"Pagi Buuu.....!"
"Mari kita diskusikan pelajaran yang kemarin yah.. yuk kita buka halaman 9".
Setiap pagi, Prapti tidak pernah lupa melempar senyumnya kepada semua anak muridnya di SMU tersebut. Dia yakin, kalau kita memulai hari kita dengan senyuman, niscaya semua aktifitas yang dia lakukan di hari itu akan memberikan enerji yang positif kepadanya dan kepada semua orang yang ada disekelilingnya.
Prapti mengajar mata pelajaran biologi. Dengan rambut yang selalu digelung rapi dan kacamata minusnya, Prapti termasuk salah seorang guru yang cukup disegani oleh rekan-rekan sejawatnya di sekolah. Bukan karena kecantikannya saja, namun karena profil kesederhanaannya dan juga kepintaran yang ia miliki. Satu hal yang pasti, Prapti termasuk seorang wanita yang introvert, tidak banyak orang yang tahu siapa dia sebenarnya, sudah menikah atau belum, punya anak berapa dsb.
Setiap selesai mengajar, Prapti selalu segera pulang, tidak pernah berlama-lama di sekolah sambil ngobrol dengan guru lainnya atau murid-murid lainnya.
Sesampainya di rumah, Prapti selalu menemani kedua adiknya belajar, lalu kemudian mereka makan malam bersama dan istirahat. Prapti selalu tidur lebih dulu, karena dia sudah harus bekerja lagi pukul 22.00 sampai 02.00 dini hari, setiap malamnya.
==
"Malem Mas... apa kabar..?", Prapti melempar senyum manisnya, kali ini bukan kepada anak muridnya, namun kepada pelanggan setianya yaitu Mas Edward.
"Malem.. baik Prap, kamu gimana?", jawab Edward sambil mencium kening Prapti.
"Aku baik-baik aja Mas, gimana keluargamu, istrimu udah pulang ke rumah lagi?".
"Udah, tapi ya gitu.. aku kok rasanya aneh aja ada dia di rumah, masih benci aja aku sama dia, kamu tahu sendiri aku masih dendam kalo dikhianati begitu".
"Mas, kamu harus bisa memaafkan dia dan memberikan kesempatan kedua buat dia, kalian kan sudah menikah 15 tahun lamanya, aku nggak rela kalo kalian harus berpisah Mas, ingat anak-anakmu...".
"Ya Prap, aku ngerti.. kadang aku hanya bingung, kenapa bukan kamu aja yang jadi istriku, dari belasan tahun lalu harusnya kita ketemu yah, supaya kamu juga nggak perlu kerja jadi seperti ini".
"Jodoh Mas, kita nggak pernah bisa nebak hidup kita nantinya sama siapa, betul kan? Lagian kamu itu nggak cinta sama aku kok, kamu itu pelangganku Mas, kamu ngerasa bahagia karena kamu bisa mendapatkan apa yang kamu mau, yang nggak kamu dapatkan dari istrimu. Ingat Mas, kalau kamu sudah setuju untuk berkomitmen, ya berarti kamu sudah siap dengan segala resikonya, ya toh?".
"Prap, ngobrol sama kamu itu menenangkan jiwa, kamu itu ibarat pahlawan buatku, kamu selalu menyelamatkan aku dari masalah-masalah yang aku alami".
"Terima kasih Mas, sudah tugasku untuk begitu, supaya kamu senang, pelanggan yang lain juga..".
Sedetik kemudian, Prapti sudah melakukan tugasnya lagi sebagai "Pahlawan".
"Pagi Buuu.....!"
"Mari kita diskusikan pelajaran yang kemarin yah.. yuk kita buka halaman 9".
Setiap pagi, Prapti tidak pernah lupa melempar senyumnya kepada semua anak muridnya di SMU tersebut. Dia yakin, kalau kita memulai hari kita dengan senyuman, niscaya semua aktifitas yang dia lakukan di hari itu akan memberikan enerji yang positif kepadanya dan kepada semua orang yang ada disekelilingnya.
Prapti mengajar mata pelajaran biologi. Dengan rambut yang selalu digelung rapi dan kacamata minusnya, Prapti termasuk salah seorang guru yang cukup disegani oleh rekan-rekan sejawatnya di sekolah. Bukan karena kecantikannya saja, namun karena profil kesederhanaannya dan juga kepintaran yang ia miliki. Satu hal yang pasti, Prapti termasuk seorang wanita yang introvert, tidak banyak orang yang tahu siapa dia sebenarnya, sudah menikah atau belum, punya anak berapa dsb.
Setiap selesai mengajar, Prapti selalu segera pulang, tidak pernah berlama-lama di sekolah sambil ngobrol dengan guru lainnya atau murid-murid lainnya.
Sesampainya di rumah, Prapti selalu menemani kedua adiknya belajar, lalu kemudian mereka makan malam bersama dan istirahat. Prapti selalu tidur lebih dulu, karena dia sudah harus bekerja lagi pukul 22.00 sampai 02.00 dini hari, setiap malamnya.
==
"Malem Mas... apa kabar..?", Prapti melempar senyum manisnya, kali ini bukan kepada anak muridnya, namun kepada pelanggan setianya yaitu Mas Edward.
"Malem.. baik Prap, kamu gimana?", jawab Edward sambil mencium kening Prapti.
"Aku baik-baik aja Mas, gimana keluargamu, istrimu udah pulang ke rumah lagi?".
"Udah, tapi ya gitu.. aku kok rasanya aneh aja ada dia di rumah, masih benci aja aku sama dia, kamu tahu sendiri aku masih dendam kalo dikhianati begitu".
"Mas, kamu harus bisa memaafkan dia dan memberikan kesempatan kedua buat dia, kalian kan sudah menikah 15 tahun lamanya, aku nggak rela kalo kalian harus berpisah Mas, ingat anak-anakmu...".
"Ya Prap, aku ngerti.. kadang aku hanya bingung, kenapa bukan kamu aja yang jadi istriku, dari belasan tahun lalu harusnya kita ketemu yah, supaya kamu juga nggak perlu kerja jadi seperti ini".
"Jodoh Mas, kita nggak pernah bisa nebak hidup kita nantinya sama siapa, betul kan? Lagian kamu itu nggak cinta sama aku kok, kamu itu pelangganku Mas, kamu ngerasa bahagia karena kamu bisa mendapatkan apa yang kamu mau, yang nggak kamu dapatkan dari istrimu. Ingat Mas, kalau kamu sudah setuju untuk berkomitmen, ya berarti kamu sudah siap dengan segala resikonya, ya toh?".
"Prap, ngobrol sama kamu itu menenangkan jiwa, kamu itu ibarat pahlawan buatku, kamu selalu menyelamatkan aku dari masalah-masalah yang aku alami".
"Terima kasih Mas, sudah tugasku untuk begitu, supaya kamu senang, pelanggan yang lain juga..".
Sedetik kemudian, Prapti sudah melakukan tugasnya lagi sebagai "Pahlawan".
Tuesday, November 13, 2007
Ditampar Monyet!
Seumur-umur hidupnya, Didu belom pernah ngerasain sama yang namanya ditampar monyet. Ditampar bantal mah sering, karena tiap pagi Didu selalu dilempar bantal sama kakak perempuannya yang bawel dan selalu bersusah payah ngebangunin Didu buat ke sekolah.
“Diduuuuuuuu!!! Banguuunn!! Males banget sih kamu!!, teriak kakaknya Pilu.
Nggak ada sedetik, sebuah bantal yang ditarik secara paksa oleh Pilu melayang dan mendarat mulus di pipi Didu yang persis seperti kepulauan Indonesia itu, bukan soal mulusnya, tapi bekas iler Didu yang membentuk disitu hihihi.
Didu menyeret kakinya yang panjang dan mulai tumbuh bulu-bulu halus. Kadang2 Didu berpikir, ”Gue mungkin nggak ganteng, tapi seenggaknya kaki gue berbulu”. Buat Didu, kejantanan seorang cowok diliat dari adanya bulu di kaki, macho lah kalo kata orang2! Maklum, Didu baru kelas 1 SMP, walopun masih anak kecil, tapi Didu udah mulai membutuhkan jati diri hihihi.
Seperti biasa, setelah mandi, Didu segera ke meja makan, melongok-longok menu apakah pagi ini, dalam hati Didu, aduh... jangan singkong rebus lagi atuh, bakalan kentut melulu di kelas, malu kan?
”Du, ini Ibu bikinin roti isi”.
(Asyeeeek! Kali ini nggak ada singkong rebus euyy!, kata Didu)
”Isi apaan Bu?”, tanya Didu.
”Selai singkong, Ibu punya resep baru, jadi abis singkongnya direbus, terus dialusin pake gula halus, enak deh Du, cobain yah!”
Didu : GUBRAK!!
Didu mencari sepatu sekolahnya di teras depan, dengan perut nahan-nahan kentut gara2 abis makan roti isi selai singkong! Didu memakai sepatunya di dekat kandang monyet piaraan Ayahnya. Namanya Charles, ayahnya terinspirasi dari film serial di TV ”Charlie’s Angels”. (Kata Didu, ”nama monyet kok Charles, lebih keren dia daripada nama anaknya, huh!). Monyet itu laki-laki, tapi kok setiap Ibu berangkat ke pengajian, kerudung Ibu selalu ditarik2 Charles dan kalo udah copot, Charles langsung pake kerudung itu dan senyam senyum sendiri. Hiiiii.... jangan-jangan !!
Didu menghampiri Charles dan berkata,”Eh Nyet, gue berangkat sekolah dulu yah, ntar siang kita maen yah!”.
Ibu Didu keluar dari ruang tamu dan menghampiri mereka, ”Du, bareng yah jalannya, Ibu mau ke tempatnya Bu RT”.
Pagi itu, Ibu Didu pake kerudung, tumben2an aja kata Didu, biasanya nggak. Lalu Ibu Didu nyamperin si Charles sambil berkata,”Charles, Ibu pergi dulu yah sama Didu, kamu nggak boleh nakal! Jaga rumah yah!”
Seperti yang udah Didu kira, Charles ngambil kerudung Ibu dengan cepat dan langsung dipake di kepalanya. Kali ini, Charles senyum ke Didu dan bibir Charles dimonyongin ke Didu, ”Minta cium!!!”.
Didu teriak,”Eeehhh minta cium lagi! Loe kan cowok!! Gue juga!! Dasar monyet bencong!!”.
“PLAAKKK!!!”, pipi Didu pedes seketika hihihihihi :-p
“Diduuuuuuuu!!! Banguuunn!! Males banget sih kamu!!, teriak kakaknya Pilu.
Nggak ada sedetik, sebuah bantal yang ditarik secara paksa oleh Pilu melayang dan mendarat mulus di pipi Didu yang persis seperti kepulauan Indonesia itu, bukan soal mulusnya, tapi bekas iler Didu yang membentuk disitu hihihi.
Didu menyeret kakinya yang panjang dan mulai tumbuh bulu-bulu halus. Kadang2 Didu berpikir, ”Gue mungkin nggak ganteng, tapi seenggaknya kaki gue berbulu”. Buat Didu, kejantanan seorang cowok diliat dari adanya bulu di kaki, macho lah kalo kata orang2! Maklum, Didu baru kelas 1 SMP, walopun masih anak kecil, tapi Didu udah mulai membutuhkan jati diri hihihi.
Seperti biasa, setelah mandi, Didu segera ke meja makan, melongok-longok menu apakah pagi ini, dalam hati Didu, aduh... jangan singkong rebus lagi atuh, bakalan kentut melulu di kelas, malu kan?
”Du, ini Ibu bikinin roti isi”.
(Asyeeeek! Kali ini nggak ada singkong rebus euyy!, kata Didu)
”Isi apaan Bu?”, tanya Didu.
”Selai singkong, Ibu punya resep baru, jadi abis singkongnya direbus, terus dialusin pake gula halus, enak deh Du, cobain yah!”
Didu : GUBRAK!!
Didu mencari sepatu sekolahnya di teras depan, dengan perut nahan-nahan kentut gara2 abis makan roti isi selai singkong! Didu memakai sepatunya di dekat kandang monyet piaraan Ayahnya. Namanya Charles, ayahnya terinspirasi dari film serial di TV ”Charlie’s Angels”. (Kata Didu, ”nama monyet kok Charles, lebih keren dia daripada nama anaknya, huh!). Monyet itu laki-laki, tapi kok setiap Ibu berangkat ke pengajian, kerudung Ibu selalu ditarik2 Charles dan kalo udah copot, Charles langsung pake kerudung itu dan senyam senyum sendiri. Hiiiii.... jangan-jangan !!
Didu menghampiri Charles dan berkata,”Eh Nyet, gue berangkat sekolah dulu yah, ntar siang kita maen yah!”.
Ibu Didu keluar dari ruang tamu dan menghampiri mereka, ”Du, bareng yah jalannya, Ibu mau ke tempatnya Bu RT”.
Pagi itu, Ibu Didu pake kerudung, tumben2an aja kata Didu, biasanya nggak. Lalu Ibu Didu nyamperin si Charles sambil berkata,”Charles, Ibu pergi dulu yah sama Didu, kamu nggak boleh nakal! Jaga rumah yah!”
Seperti yang udah Didu kira, Charles ngambil kerudung Ibu dengan cepat dan langsung dipake di kepalanya. Kali ini, Charles senyum ke Didu dan bibir Charles dimonyongin ke Didu, ”Minta cium!!!”.
Didu teriak,”Eeehhh minta cium lagi! Loe kan cowok!! Gue juga!! Dasar monyet bencong!!”.
“PLAAKKK!!!”, pipi Didu pedes seketika hihihihihi :-p
Sunday, November 11, 2007
Black Friday
Deru suara mobil2 penjemput di terminal kedatangan internasional semakin kencang, Helen melongok ke kanan dan kekiri, mencoba mencari tunangannya yang baru saja tiba dari Singapore. "Hhh.. mana yah? Capek euy kaki gue..", batin Helen.
Helen berjalan menuju pos pusat informasi, "Permisi, malam Mbak, saya mau tanya, pesawat Singapore Airlines yang jam 18.20 apakah sudah mendarat?".
"Malam juga Ibu, sudah kok barusan, kira2 setengah jam yang lalu, bagasinya pun sudah keluar, ada yang bisa saya bantu?".
"Eh iya, temen saya di pesawat itu, saya mau jemput, tapi dari tadi kok nggak ada juga yah, saya udah nunggu disini sekitar setengah jam-an juga".
"Oh kalo gitu ditunggu saja dulu Mbak, mungkin masih cek bagasi.."
"Ok, makasih yah"
"Sama-sama".
"Hhh.. babe, where the hell are you? nggak bisa ditelpon pula".
Sudah 1 jam Helen menunggu di tempat penjemputan, tapi tunangannya tidak muncul2 juga. "Apa gue salah nyatet jadwal yah? enggak kok, ini emailnya gue print out dan bener tanggal segini, flightnya nomer sekian dan jam segini juga datengnya, kemana yah tuh orang".
Sekarang sudah 1,5 jam Helen menunggu, "Apa gue pulang aja yah?".
Helen berjalan menuju tempat parkir dan segera masuk ke taxi biru yang tetap setia menunggunya.
"Gimana Bu? temannya sudah tiba?", tanya Pak Supir.
"Nggak ada Pak, mungkin delay kali yah disananya, kita pulang aja ya pak, ke arah blok M".
"Baik Bu".
Sesampainya di rumah, Helen segera membuka internet dan mengirimkan email, juga pesan di YM untuk tunangannya,
"Dear Daniel, i just got back from the airport and you were not there. what happened to you? is there any changes on the flight? i've been waiting there at the airport for almost 2 hours. the date and the flight number are correct,printed your email as well. or maybe you wrote the wrong date or flight number? if you're still in spore, just gimme a call or buzz me, let me know, okay? take care babe, love, Helen".
Malam itu, perasaan Helen sungguh tidak nyaman, dia merasa ada yang tidak beres dengan tunangannya. Padahal Sabtu besok, Helen sudah mengatur jadwal pertemuan Daniel dengan kedua orang tuanya, untuk melamar Helen secara resmi. Yap, they're getting married!.
Sabtu, Helen menunggu seharian kabar dari Daniel, tapi tak ada juga beritanya, tak ada telpon, pesan di YM ataupun email. Hari itu Helen membereskan semua catatan rencana pernikahannya yang akan diadakan 4 bulan lagi. Helen bermaksud mendiskusikannya dengan Daniel setelah dia tiba di Jakarta. Lokasi sudah disurvey dan dipesan, design undangan sudah dibuat draft-nya, design kebaya dan seragam keluarga tinggal dibeli, model cincin sudah disurvey, daftar undangan dari pihak Helen sudah, tinggal dari Daniel. Helen dan Daniel sepakat untuk membuat acara sederhana, dengan akad nikah di masjid dan syukuran di rumah Helen. Sejak Daniel melamar Helen, hampir tiap minggu mereka diskusi via telepon, maklum, mereka menjalin hubungan jarak jauh, bertemu secara fisik hanya 1 kali di Jakarta. Setelah itu, hubungan mereka dijalani dengan hanya via telepon seminggu 2x, itu pun Daniel yang telpon, jauh dari tempat tinggalnya yaitu di Boston.
Malamnya, Helen menonton TV sampai sekitar pukul 23.00, baru saja mau tidur, tiba2 ponselnya berdering.
Nomornya nggak kenal..
"Halo?"
"Hello.. Helen?"
"Ya, ini siapa?"
"Helen.. Its' me, Daniel"
"Oh babe! where are you? did you get my email?"
"Yeah.. yeah, i just read your mail and also in the YM"
"So, is everything okay?"
"Yeah.. well, not really, listen, i'm really sorry for what happened at the airport, who drove you there?"
"I went there by cab"
"Cab?? and you were alone??"
"Yeah, but hey it's okay, I am at home now, so tell me what happened?"
"Ehmmm... Helen, I'm still in Singapore"
"Oh I see, so when will you get here? My parents are already here, Honey.."
"Yeah, that's the problem, I can't go.. "
"Why? what happened?"
"Oh God.. I don't know where to start.."
Jantung Helen berdegup kencang..
"Helen, honey.. I got drunk last night.."
"Yeah, and..?"
"My friends here were giving me a some kind of.. a... bachelor party, they think i deserved that before umm.. you know, we got married, so i joined them.. at the party, there were lots of.. people.. umm.. boys and girls.. and.. you know..i got drunk, and that made me forget to go to the airport..'
"You were at the party? That's okay Daniel, I can understand..."
"You can understand..?? God, Helen.. there's a part that i should tell you.. I hope you're not getting angry with me..Its.. Its.. I.. I was having,umm.. I was drunk.. and I didn't know who the girls are.."
"What..? What..? What do you mean by the girls??"
"You see, there were several girls joined the party, and one of them were a "gift" from the guys, for me.. and when i was drunk, she.. umm.. she.. kinda led me to the one of the room in the apartment.. and.. i didn't know what happened, i woke up in the morning and she was just there sleeping next to me..umm.. naked.. i mean, umm.. we're both naked..and...ummm..."
"What...? are you saying that you slept with her? is that what you're saying?"
"Helen, please.. I am really.. really.. really.. sorry, please Helen, but i guess yes, I slept with her last night.."
Seketika itu juga, badan Helen terasa lemas, Helen menyalakan menu speaker pada ponselnya, tangannya terlalu lemas untuk mengangkat ponsel ke telinga kirinya.
"So, at the night we should meet for the marriage preparation, you were suddenly get drunk and fucked someone else?"
"Helen.. pleaseeee I'm begging you, I know I've made a mistake Helen, I am just a man, please baby, honey.. don't leave me, she was just a fucking hooker, my friends hired her, i don't even know this girl, and.. and.. Hhh... Gooodd!!! Please Helen.. don't leave me... Honey.. I need you, I love you with all my heart, and we're getting married in a few months...Pleaseee..."
Dengan airmata yang mulai jatuh ke pangkuan, Helen mencoba bertahan untuk tidak menangis di depan Daniel, namun entah mendapatkan kekuatan dari mana, Helen akhirnya memutuskan sesuatu.
"Pleaseee Helen, I know I fucked up! Pleasee gimme a second chance, Please Helenn..".
"Daniel, thank you for you call.. I think God has already sending me the answer, about us. It's over Daniel. It's over between us, there will be no marriage, no phone calls every week, no more. Thank you for everything that you have given me, for the past 11 months, thank you, from now on, please don't you ever fucking contact me again, don't bother to call me, don't you ever thing about sending me anything, don't buzz in the YM, just.. get the hell outta my life. okay?" bye!". Helen menutup telpon.
Helen terdiam. Dia meletakkan telepon genggamnya di samping tempat tidur, kemudian merebahkan dirinya perlahan.
Sambil meneteskan airmata dia berkata dalam hati,"Terima kasih dunia, kini aku nggak akan akan pernah punya cinta lagi..".
Helen berjalan menuju pos pusat informasi, "Permisi, malam Mbak, saya mau tanya, pesawat Singapore Airlines yang jam 18.20 apakah sudah mendarat?".
"Malam juga Ibu, sudah kok barusan, kira2 setengah jam yang lalu, bagasinya pun sudah keluar, ada yang bisa saya bantu?".
"Eh iya, temen saya di pesawat itu, saya mau jemput, tapi dari tadi kok nggak ada juga yah, saya udah nunggu disini sekitar setengah jam-an juga".
"Oh kalo gitu ditunggu saja dulu Mbak, mungkin masih cek bagasi.."
"Ok, makasih yah"
"Sama-sama".
"Hhh.. babe, where the hell are you? nggak bisa ditelpon pula".
Sudah 1 jam Helen menunggu di tempat penjemputan, tapi tunangannya tidak muncul2 juga. "Apa gue salah nyatet jadwal yah? enggak kok, ini emailnya gue print out dan bener tanggal segini, flightnya nomer sekian dan jam segini juga datengnya, kemana yah tuh orang".
Sekarang sudah 1,5 jam Helen menunggu, "Apa gue pulang aja yah?".
Helen berjalan menuju tempat parkir dan segera masuk ke taxi biru yang tetap setia menunggunya.
"Gimana Bu? temannya sudah tiba?", tanya Pak Supir.
"Nggak ada Pak, mungkin delay kali yah disananya, kita pulang aja ya pak, ke arah blok M".
"Baik Bu".
Sesampainya di rumah, Helen segera membuka internet dan mengirimkan email, juga pesan di YM untuk tunangannya,
"Dear Daniel, i just got back from the airport and you were not there. what happened to you? is there any changes on the flight? i've been waiting there at the airport for almost 2 hours. the date and the flight number are correct,printed your email as well. or maybe you wrote the wrong date or flight number? if you're still in spore, just gimme a call or buzz me, let me know, okay? take care babe, love, Helen".
Malam itu, perasaan Helen sungguh tidak nyaman, dia merasa ada yang tidak beres dengan tunangannya. Padahal Sabtu besok, Helen sudah mengatur jadwal pertemuan Daniel dengan kedua orang tuanya, untuk melamar Helen secara resmi. Yap, they're getting married!.
Sabtu, Helen menunggu seharian kabar dari Daniel, tapi tak ada juga beritanya, tak ada telpon, pesan di YM ataupun email. Hari itu Helen membereskan semua catatan rencana pernikahannya yang akan diadakan 4 bulan lagi. Helen bermaksud mendiskusikannya dengan Daniel setelah dia tiba di Jakarta. Lokasi sudah disurvey dan dipesan, design undangan sudah dibuat draft-nya, design kebaya dan seragam keluarga tinggal dibeli, model cincin sudah disurvey, daftar undangan dari pihak Helen sudah, tinggal dari Daniel. Helen dan Daniel sepakat untuk membuat acara sederhana, dengan akad nikah di masjid dan syukuran di rumah Helen. Sejak Daniel melamar Helen, hampir tiap minggu mereka diskusi via telepon, maklum, mereka menjalin hubungan jarak jauh, bertemu secara fisik hanya 1 kali di Jakarta. Setelah itu, hubungan mereka dijalani dengan hanya via telepon seminggu 2x, itu pun Daniel yang telpon, jauh dari tempat tinggalnya yaitu di Boston.
Malamnya, Helen menonton TV sampai sekitar pukul 23.00, baru saja mau tidur, tiba2 ponselnya berdering.
Nomornya nggak kenal..
"Halo?"
"Hello.. Helen?"
"Ya, ini siapa?"
"Helen.. Its' me, Daniel"
"Oh babe! where are you? did you get my email?"
"Yeah.. yeah, i just read your mail and also in the YM"
"So, is everything okay?"
"Yeah.. well, not really, listen, i'm really sorry for what happened at the airport, who drove you there?"
"I went there by cab"
"Cab?? and you were alone??"
"Yeah, but hey it's okay, I am at home now, so tell me what happened?"
"Ehmmm... Helen, I'm still in Singapore"
"Oh I see, so when will you get here? My parents are already here, Honey.."
"Yeah, that's the problem, I can't go.. "
"Why? what happened?"
"Oh God.. I don't know where to start.."
Jantung Helen berdegup kencang..
"Helen, honey.. I got drunk last night.."
"Yeah, and..?"
"My friends here were giving me a some kind of.. a... bachelor party, they think i deserved that before umm.. you know, we got married, so i joined them.. at the party, there were lots of.. people.. umm.. boys and girls.. and.. you know..i got drunk, and that made me forget to go to the airport..'
"You were at the party? That's okay Daniel, I can understand..."
"You can understand..?? God, Helen.. there's a part that i should tell you.. I hope you're not getting angry with me..Its.. Its.. I.. I was having,umm.. I was drunk.. and I didn't know who the girls are.."
"What..? What..? What do you mean by the girls??"
"You see, there were several girls joined the party, and one of them were a "gift" from the guys, for me.. and when i was drunk, she.. umm.. she.. kinda led me to the one of the room in the apartment.. and.. i didn't know what happened, i woke up in the morning and she was just there sleeping next to me..umm.. naked.. i mean, umm.. we're both naked..and...ummm..."
"What...? are you saying that you slept with her? is that what you're saying?"
"Helen, please.. I am really.. really.. really.. sorry, please Helen, but i guess yes, I slept with her last night.."
Seketika itu juga, badan Helen terasa lemas, Helen menyalakan menu speaker pada ponselnya, tangannya terlalu lemas untuk mengangkat ponsel ke telinga kirinya.
"So, at the night we should meet for the marriage preparation, you were suddenly get drunk and fucked someone else?"
"Helen.. pleaseeee I'm begging you, I know I've made a mistake Helen, I am just a man, please baby, honey.. don't leave me, she was just a fucking hooker, my friends hired her, i don't even know this girl, and.. and.. Hhh... Gooodd!!! Please Helen.. don't leave me... Honey.. I need you, I love you with all my heart, and we're getting married in a few months...Pleaseee..."
Dengan airmata yang mulai jatuh ke pangkuan, Helen mencoba bertahan untuk tidak menangis di depan Daniel, namun entah mendapatkan kekuatan dari mana, Helen akhirnya memutuskan sesuatu.
"Pleaseee Helen, I know I fucked up! Pleasee gimme a second chance, Please Helenn..".
"Daniel, thank you for you call.. I think God has already sending me the answer, about us. It's over Daniel. It's over between us, there will be no marriage, no phone calls every week, no more. Thank you for everything that you have given me, for the past 11 months, thank you, from now on, please don't you ever fucking contact me again, don't bother to call me, don't you ever thing about sending me anything, don't buzz in the YM, just.. get the hell outta my life. okay?" bye!". Helen menutup telpon.
Helen terdiam. Dia meletakkan telepon genggamnya di samping tempat tidur, kemudian merebahkan dirinya perlahan.
Sambil meneteskan airmata dia berkata dalam hati,"Terima kasih dunia, kini aku nggak akan akan pernah punya cinta lagi..".
Saturday, November 10, 2007
Curahan Hati Si Maman
Curhat singkatan dari curahan hati, bisa juga curahan harga telur, curangnya harga diri, curi-curi hati dan masih banyak singkatan lainnya. Sambil menulis diari, Maman tersenyum mungil sambil agak kentut-kentut kecil. Maman sedikit bergidik, entah karena malu atau karena ternyata bukan hanya gas yang keluar dari pantatnya, namun ada ampasnya juga.
Sejenak Maman menggambarkan sesuatu pada diarinya, sebuah gambar berbentuk hati, M Love S, Hmm.. so sweet, M bisa berarti Manisan, S bisa berarti Singkong. Manisan Singkong. Luncang! Bisa jadi menu baru di warung Mami nanti..
Maman menghela nafas panjang.. pendek.. panjang.. pendek.. persis kayak lagi ngikutin irama lagu senam kesegaran jasmani. Saat ini, Maman lagi dilema, dia pengen ngomong sama ortunya kalo dia itu.. emm.. dia itu.. ah sutralah, nanti aja, kalo Maman kasih tau sekarang, nanti yang baca nggak surpris lagi!
Saking bingungnya Maman, dia nyetel radio, eh tiba2 lagu kesayangannya "Born To Love You"nya George Duke muncul! Cihuyy! Pas banget sama suasana hati gue saat ini, lagu ini gue persembahkan buat yayang gue yang lagi di rumah ujung. Yak betul! Pacar Maman rumahnya memang cuma sekelebatan 2 RT sama rumah Maman, tapi karena satu dan lain hal juga beberapa hal dan banyak sekali hal2 lain, membuat Maman dan pacarnya itu nggak bisa malem mingguan seperti layaknya orang2 yang pacaran lainnya.
Maman ngebatin,"Nggak bisa niy gue tiap malem minggu begini, abis aja pulsa hape gue buat sms2an ama yayang, ih! Mana tiap bulan pulsa gue masih dijatah pula ama Bokap". FYI, Yayang adalah panggilan sayang Maman buat pacarnya, sementara pacarnya manggil Maman itu "Hani", bukannya sok inggris, tapi emang nama lengkap Maman itu Maman Suhani.
Maman ngegigit kuku sampe bentuk kukunya menyerupai pacul. Bentuknya menjadi unik dan nggak kalah sama Kris Dayanti lah!. "Gue harus ngomong sekarang! Kalo nggak kapan lagi nih gue, bentar lagi gue lulus kuliah, bo-nyok kudu tau siapa gue".
Akhirnya Maman keluar dari kamarnya yang serba pas2an itu, selain karena ukurannya cuma 3x3 meter itu pun didalemnya udah ada kamar mandi selebar 2x2 meter, praktis setiap malem, Maman tidur berdiri, kenapa? karena Maman ngefans sama peribahasa,"Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari". Karena Maman nggak mungkin kencing terus menerus, maka dia memilih tidur berdiri.
Maman berjalan menuju ruang tamu, disitu udah ada bo-nyoknya yang lagi nonton TV. "Mam, Pap, are you busy?"
Bo-Nyoknya ngejawab,"yeah, can't you see?
"Mam, Pap, this is all a big mistakes, i just try to walk away".
(Hhh.. lama2 bisa jadi lagunya Nika Costa :-p)
"Ada apa Man?"
"Gini Guys.. (anjrit! guuuuys!!), Maman mau ngomong, sekaligus minta restu".
"Restu apaan? Udah kayak mo kawin aja kamu"
"Mam.. Pap.. Emmm... I am Gay..".
Sejenak ortu Maman terdiam.. cukup lama, sampe tikus2 yang mo lewat di depan ruang tamu sampe berenti nungguin reaksi ortu Maman mendengar pengakuan anak semata wayangnya itu.
Tiba2, "Bwahahahahahahahahahahahahaahahahahahahahaha!! kamu gay maaaan???", Mami dan Papi ketawa kenceng2, sampe tikus2 yang tadinya mo lewat jadi ngibrit balik ke semak2, ngumpet sengumpet2nya! bukan karena kaget, tapi karena derasnya semprotan pemadam kebakaran yang keluar dari mulut Papi dan Mami.
"Man... kita nggak heran kalo kamu Gay!, gini deh mendingan Papi dan Mami udah saatnya ngaku sama kamu juga yah. tapi kamu jangan marah, kamu tetep anak Papi dan Mami. Man, Papi dan Mami mengadopsi kamu dari bayi. kenapa? soalnya Mami tuh nggak bisa punya anak."
"Nggak bisa punya anak? kenapa?, Maman terheran2.
"Karena Mami waria , Man.. Hyuuuukkkk!"
Sejenak Maman menggambarkan sesuatu pada diarinya, sebuah gambar berbentuk hati, M Love S, Hmm.. so sweet, M bisa berarti Manisan, S bisa berarti Singkong. Manisan Singkong. Luncang! Bisa jadi menu baru di warung Mami nanti..
Maman menghela nafas panjang.. pendek.. panjang.. pendek.. persis kayak lagi ngikutin irama lagu senam kesegaran jasmani. Saat ini, Maman lagi dilema, dia pengen ngomong sama ortunya kalo dia itu.. emm.. dia itu.. ah sutralah, nanti aja, kalo Maman kasih tau sekarang, nanti yang baca nggak surpris lagi!
Saking bingungnya Maman, dia nyetel radio, eh tiba2 lagu kesayangannya "Born To Love You"nya George Duke muncul! Cihuyy! Pas banget sama suasana hati gue saat ini, lagu ini gue persembahkan buat yayang gue yang lagi di rumah ujung. Yak betul! Pacar Maman rumahnya memang cuma sekelebatan 2 RT sama rumah Maman, tapi karena satu dan lain hal juga beberapa hal dan banyak sekali hal2 lain, membuat Maman dan pacarnya itu nggak bisa malem mingguan seperti layaknya orang2 yang pacaran lainnya.
Maman ngebatin,"Nggak bisa niy gue tiap malem minggu begini, abis aja pulsa hape gue buat sms2an ama yayang, ih! Mana tiap bulan pulsa gue masih dijatah pula ama Bokap". FYI, Yayang adalah panggilan sayang Maman buat pacarnya, sementara pacarnya manggil Maman itu "Hani", bukannya sok inggris, tapi emang nama lengkap Maman itu Maman Suhani.
Maman ngegigit kuku sampe bentuk kukunya menyerupai pacul. Bentuknya menjadi unik dan nggak kalah sama Kris Dayanti lah!. "Gue harus ngomong sekarang! Kalo nggak kapan lagi nih gue, bentar lagi gue lulus kuliah, bo-nyok kudu tau siapa gue".
Akhirnya Maman keluar dari kamarnya yang serba pas2an itu, selain karena ukurannya cuma 3x3 meter itu pun didalemnya udah ada kamar mandi selebar 2x2 meter, praktis setiap malem, Maman tidur berdiri, kenapa? karena Maman ngefans sama peribahasa,"Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari". Karena Maman nggak mungkin kencing terus menerus, maka dia memilih tidur berdiri.
Maman berjalan menuju ruang tamu, disitu udah ada bo-nyoknya yang lagi nonton TV. "Mam, Pap, are you busy?"
Bo-Nyoknya ngejawab,"yeah, can't you see?
"Mam, Pap, this is all a big mistakes, i just try to walk away".
(Hhh.. lama2 bisa jadi lagunya Nika Costa :-p)
"Ada apa Man?"
"Gini Guys.. (anjrit! guuuuys!!), Maman mau ngomong, sekaligus minta restu".
"Restu apaan? Udah kayak mo kawin aja kamu"
"Mam.. Pap.. Emmm... I am Gay..".
Sejenak ortu Maman terdiam.. cukup lama, sampe tikus2 yang mo lewat di depan ruang tamu sampe berenti nungguin reaksi ortu Maman mendengar pengakuan anak semata wayangnya itu.
Tiba2, "Bwahahahahahahahahahahahahaahahahahahahahaha!! kamu gay maaaan???", Mami dan Papi ketawa kenceng2, sampe tikus2 yang tadinya mo lewat jadi ngibrit balik ke semak2, ngumpet sengumpet2nya! bukan karena kaget, tapi karena derasnya semprotan pemadam kebakaran yang keluar dari mulut Papi dan Mami.
"Man... kita nggak heran kalo kamu Gay!, gini deh mendingan Papi dan Mami udah saatnya ngaku sama kamu juga yah. tapi kamu jangan marah, kamu tetep anak Papi dan Mami. Man, Papi dan Mami mengadopsi kamu dari bayi. kenapa? soalnya Mami tuh nggak bisa punya anak."
"Nggak bisa punya anak? kenapa?, Maman terheran2.
"Karena Mami waria , Man.. Hyuuuukkkk!"
Subscribe to:
Posts (Atom)